Hasil Panen Tembakau Melimpah Harga Jual Turun Membuat Petani Resah


Penulis : Aditya Rama Dhilah | NIM : 24041184129

JOMBANG-Terkenal dengan salah satu daerah dengan penghasil tembakau, terdapat beberapa kecamatan di Kabupaten Jombang yang terkenal sebagai penghasil tembakau di antaranya adalah Kecamatan Kudu, Ngusikan, Kabuh, Ploso, dan Plandaan. Pada musim panen tahun ini para petani tembakau di Kabupaten Jombang merasa resah, hal tersebut dikarenakan harga jual tembakau tahun ini mengalamai penurunan.

Pada musim panen tahun ini sebenarnya kualitas hasil tembakau sangat berbeda jauh dengan tahun kemarin, dimana pada tahun ini hasil panen menunjukan hasil yang bagus. Hal tersebut dikarenkan pada tahun ini musim kemarau berjalan lebih lama dari biasanya yang mendukung untuk pertumbuhan tembakau. Sedangkan tahun kemarin banyak petani yang mengalami gagal panen karena cuaca yang tidak mendukung.

Namun, hasil panen yang baik tidak diiringi dengan harga jual yang baik pula. Justru, harga jual tembakau pada tahun ini mengalami penurunan yang membuat petani resah. Harga jual berada di kisaran Rp 6.000 – Rp 7.000 per kilogram. Berbanding terbaik dengan harga penjualan pada tahun 2023, dimana harga tembakau bisa mencapai kisaran Rp 8.000 – Rp 10.000 per kilogramnya.

Pada tangal 15 September 2024 dalam wawancara bersama petani tembakau di Desa Bendungan Kecamatan Kudu Kabupaten Jombang, mengenai permasalahan yang sedang terjadi saat ini. Achmad salah satu petani tembakau menyampaikan alasan turunnya harga tembakau tahun ini. “Hasil panen tembakau tahun ini terbilang sukses dan mendapatkan hasil yang melimpah nah hal itu yang menjadikan harga tembakau basah menurun dibandingkan tahun kemarin, karena banyaknya hasil panen itu membuat tengkulak mematok harga yang lebih rendah.” Ia menambahkan, “ditahun kemarin produksi tembakau basah menurun karena cuaca yang kurang mendukung, hal ini yang menjadikan harga tahun kemarin meroket.”

Masalah lain pun sedang dihadapi oleh petani tembakau khususnya di Kecamatan Kudu. Tengkulak dan pabrik – pabrik yang biasanya mengambil dari wilayah kecamatan kudu tahun ini menjadi berkurang, hal itu di karenakan tengkulak dan pabrik trauma sebab terlalu banyak pemakaian atau pemberian gula pada tembakau hasil rajangan yang membuat warna dari tembakau menjadi hitam pekat.

Syaif salah satu petani tembakau juga menjelaskan keresahannya akan masalah ini, “masalah tahun kemarin berdampak dalam penjualan tembakau tahun ini, kita para petani harus putar otak lagi agar tidak rugi.”

Syaif berharap, pemerintah bisa segera menindaklanjuti permasalahan ini dengan membantu menstabilakan kembali harga tembakau agar tembakau bisa segera terjual dan para petani tidak mengalami kerugian yang begitu serius. “ya kami berharap pemerintah bisa turun langsung ke lapangan untuk cek harga dan kualitas tembakau, karena takutnya kalau berlanjut lebih lama tembakau – tembakau yang sudah dipanen bisa busuk dan kita mengalami kerugian.” Ujarnya.




 

Comments

Popular posts from this blog

Pesona Sanggar Tari Ibu Kota "JKT48"

Fenomena Kafe sebagai Ruang Belajar Alternatif pada Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya

Panas Terik Biang Cuan bagi Pelaku UMKM Es Teh di Surabaya